Contents
Banyak dari populasi Indonesia yang terhimpit secara finansial oleh beban untuk membiayai hidup anak dan orang tua, bagaikan sepotong sandwich. Akibatnya, para generasi sandwich ini merasa kesulitan untuk menabung atau bahkan menikmati hasil kerja mereka. Apakah kamu juga ada dalam siklus ini?
Mengenal Pengertian dan Penyebab Generasi Sandwich
Generasi sandwich artinya seseorang yang harus menanggung biaya kehidupan dari orang tua, pasangan, serta anak mereka sekaligus. Mereka memiliki tanggung jawab ganda atas finansial kedua belah pihak.
Penyebab dari generasi sandwich sendiri dapat ditimbulkan oleh adanya perubahan ekonomi dan kurangnya persiapan akan keuangan di masa depan. Terlebih, kenaikan biaya hidup yang signifikan membuat pengeluaran jadi membengkak sementara pendapatan tetap di angka yang sama. Inilah yang dapat memicu berlangsungnya rantai generasi sandwich ke generasi berikutnya.
Cara Mengatur Keuangan Bagi Generasi Sandwich
Tuntutan untuk menghidupi dua atau tiga generasi sekaligus memang berat, namun bukan berarti tak ada jalan keluar. Dengan perencanaan keuangan yang matang, generasi sandwich mampu memenuhi kebutuhan tanpa kewalahan sekaligus membangun stabilitas finansial jangka panjang.
1. Bicara dari hati ke hati.
Beban berat akan terasa lebih ringan jika dipikul bersama. Bicarakan dengan pasangan, orang tua, atau saudara tentang kondisi keuanganmu secara terbuka dan jujur. Utarakan kesulitan yang kamu hadapi dan diskusikan bersama cara terbaik untuk mengatasinya. Tinjau kembali kebiasaan konsumsi, nominal yang harus ditransfer ke orang tua, dan tanggungan lainnya supaya tidak ada ekspektasi yang tidak realistis.
2. Buat anggaran bulanan.
Salah satu jalan keluar yang dapat dilakukan oleh generasi sandwich ialah melakukan perencanaan keuangan yang baik. Perencanaan yang dimaksud ialah melakukan pembagian atas penghasilan yang didapat. Kamu bisa mencoba rumus 40-30-20-10, di mana 40% gaji dipakai untuk memenuhi kebutuhan, 30% untuk cicilan, 20% dapat ditabung, serta 10% sisanya untuk jajan.
Porsi yang ditetapkan untuk masing-masing pos pengeluaran bisa disesuaikan. Namun, pastikan semua alokasi dana sudah jelas. Misalnya, sekian rupiah sudah disisihkan untuk kebutuhan orang tua dan sekian rupiah untuk dana pendidikan anak. Jangan sampai realisasinya melebihi rencana.
3. Kelola kebutuhan dan keinginan dengan bijak.
Langkah selanjutnya ialah membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Mulai dengan membuat skala prioritas. Pengeluaran yang sekiranya bisa ditekan atau ditunda sebaiknya ditaruh di bawah. Di sisi lain, prioritas paling utama adalah kebutuhan pokok atau primer, baru selanjutnya kebutuhan sekunder.
Supaya keuanganmu tetap terjaga, belanja kebutuhan rumah dengan cicilan tanpa kartu kredit dari Danakini Finance. Semakin hemat dengan promo bunga 0% yang bisa kamu dapatkan dengan download aplikasi Danakini Finance sekarang.
4. Siapkan dana darurat dan proteksi.
Dana darurat berfungsi sebagai jaring pengaman saat ada kejadian yang tidak terduga. Misalnya saja kebutuhan medis, kehilangan pekerjaan, perlindungan akan bencana, dan kebutuhan mendesak lainnya. Dana darurat ini sebaiknya ditabung di rekening dengan bunga tinggi dan bisa dicairkan kapan saja. Tidak perlu menabung jutaan rupiah setiap bulannya—ratusan atau bahkan puluhan ribu setiap bulan pun lama-lama akan jadi gunung.
5. Investasikan uang dingin.
Saat kamu mendapatkan bonus atau tambahan uang, sebisa mungkin alokasikan dana tersebut ke instrumen investasi pilihanmu. Pastikan juga kamu telah mempelajari risikonya sebelum berinvestasi, ya. Jika memungkinkan, sisihkan pendapatan untuk investasi setiap bulannya.
6. Cari pemasukan tambahan.
Dalam beberapa kasus, pengeluaran sudah ditekan sedemikian rupa tapi gaji masih terasa pas-pasan. Hal ini terjadi bukan karena kamu gagal dalam manajemen keuangan pribadi, melainkan karena tanggung jawab finansial yang melampaui pendapatan saat ini. Solusi terbaik adalah mencari sumber pemasukan tambahan.
Baca Juga: 10 Ide Kerja Sampingan Ibu Rumah Tangga Tanpa Modal
Cara ini memang tidak mudah, terutama saat pasar kerja yang lesu. Akan tetapi, kamu bisa mencoba peruntungan menjadi pengusaha kecil-kecilan. Contohnya, menjadi reseller di e-commerce, ikutan program afiliasi untuk dapat komisi, ambil proyek freelance, atau jualan jajanan di kantor. Kuncinya adalah manajemen waktu dan rasa percaya diri.
Siapa saja bisa keluar dari jeratan generasi sandwich. Mungkin tidak dalam semalam, tapi dengan langkah-langkah kecil yang konsisten. Segera atur keuangan secara saksama, buat skala prioritas, kelola dana darurat dan investasi, serta cari peluang baru. Dengan begitu, kamu bisa menjaga keuangan keluarga sekaligus menjamin masa depanmu.

2 Comments
Terima kasih banyak
sungguh sangat membantu🙏
Dana Kini Finance is the best